Semua berlangsung begitu
saja. Disaat salah satu jejaring social mulai mempertemukan kita. Disaat segala
lelucon yang kamu berikan di sela sela percakapan kita lewat jejaring social,
disaat itu pula mulai timbul perasaan yang aku sendiri tidak bisa
menafsirkannya.
Semakin lama kita semakin dekat. Tapi aku tidak mau menafsirkan
bahwa ini merupakan suatu pendekatan. Aku menikmati setiap
percakapan kita lewat pesan singkat sms, dan segala bentuk lelucon yang kamu
berikan. Ntah kenapa, aku senang jika kamu mengirim pesan singkat sms terlebih
dahulu. Dari setiap percakapan itu, aku sudah mulai mengetahui karaktermu. Kamu
itu orangnya blak-blakan, frontal, dan susah dibilangin. Tapi aku nyaman dengan
itu semua.
Aku masih sangat mengingat percakapan kita di pesan singkat “kalok
uangnya cepat habis, jadi siapa yang salah?” “yang salah ya yang bikin aku
boros la :D” “ngelak aja teruuus” “ia ia, aku yang salah” aku senang disaat
kamu mengakui kesalahanmu.
Tapi itu dulu, sebelum
kita semakin menjauh. Sampai saat ini aku masih bertanya-tanya, apa sebenarnya
penyebab kita bisa menjauh. Apa karena kamu itu teman dekatnya mantan aku? Atau
apa karena kamu takut jika kita melanjutkan hubungan ini, aku bisa kecewa
melihat sikap nyatamu yang jauh berbeda dengan sikapmu di dunia maya?
Bagaimana bisa kamu
langsung menafsirkan bahwa aku akan kecewa melihat sikap nyatamu jika kita belum
mencobanya terlebih dahulu.
Di satu sisi memang aku
tidak bisa menyalahkanmu, karena aku tahu posisimu yang saat ini serba salah. tapi apakah aku harus menyalahkan keadaan? Keadaan yang mempertemukan kita di
waktu yang tidak tepat.
Aku sangat berharap kamu
bisa secepatnya peka. peka dengan perasaan yang sudah lama menunggu kepastian ini.