Kamis, 13 Maret 2014

Dapatkah kita menyalahkan keadaan?

      Semua berlangsung begitu saja. Disaat salah satu jejaring social mulai mempertemukan kita. Disaat segala lelucon yang kamu berikan di sela sela percakapan kita lewat jejaring social, disaat itu pula mulai timbul perasaan yang aku sendiri tidak bisa menafsirkannya. 
      Semakin lama kita semakin dekat. Tapi aku tidak mau menafsirkan bahwa ini merupakan suatu pendekatan. Aku menikmati setiap percakapan kita lewat pesan singkat sms, dan segala bentuk lelucon yang kamu berikan. Ntah kenapa, aku senang jika kamu mengirim pesan singkat sms terlebih dahulu. Dari setiap percakapan itu, aku sudah mulai mengetahui karaktermu. Kamu itu orangnya blak-blakan, frontal, dan susah dibilangin. Tapi aku nyaman dengan itu semua. 
Aku masih sangat mengingat percakapan kita di pesan singkat “kalok uangnya cepat habis, jadi siapa yang salah?” “yang salah ya yang bikin aku boros la :D” “ngelak aja teruuus” “ia ia, aku yang salah” aku senang disaat kamu mengakui kesalahanmu.
      Tapi itu dulu, sebelum kita semakin menjauh. Sampai saat ini aku masih bertanya-tanya, apa sebenarnya penyebab kita bisa menjauh. Apa karena kamu itu teman dekatnya mantan aku? Atau apa karena kamu takut jika kita melanjutkan hubungan ini, aku bisa kecewa melihat sikap nyatamu yang jauh berbeda dengan sikapmu di dunia maya?
Bagaimana bisa kamu langsung menafsirkan bahwa aku akan kecewa melihat sikap nyatamu jika kita belum mencobanya terlebih dahulu.
Di satu sisi memang aku tidak bisa menyalahkanmu, karena aku tahu posisimu yang saat ini serba salah. tapi apakah aku harus menyalahkan keadaan? Keadaan yang mempertemukan kita di waktu yang tidak tepat.

Aku sangat berharap kamu bisa secepatnya peka. peka dengan perasaan yang sudah lama menunggu kepastian ini.